“Life
is darkness if there’s no aspiration.” Yup, aspirasi adalah sesuatu yang sangat
penting dan berpengaruh besar dalam banyak hal. Mulai dari segala yang
menyangkut kepentingan pribadi, organisasi, bahkan pemerintah dan negara sangat
membutuhkan aspirasi rakyatnya.
Sekolah juga termasuk pihak yang
membutuhkan aspirasi dari warga sekolah. Terutama untuk pembangunan dalam
segala bidang, termasuk akademik dan non-akademik. Tidak hanya menyangkut
peraturan atau sarana dan prasarana saja, tetapi juga aspirasi mengenai program
kerja yang telah atau akan diadakan oleh pihak sekolah. Seperti program live in, studi banding, atau bisa juga
terobosan-terobosan mengenai usulan program kerja yang baru.
Aspirasi merupakan titik awal. Bisa
disebut juga aspirasi adalah pengarah dalam pembangunan sekolah. Semua aspirasi
yang telah disuarakan itulah yang menjadi tujuan akhir. Setelah tujuan ditetapkan,
selanjutnya adalah bergantung pada pihak yang menyalurkan dan menerima aspirasi
tersebut. Apakah akan berjalan sesuai dengan harapan warga sekolah atau tidak.
“Aspirasi hanya dijadikan sebagai
“alat bantu” yang menentukan harus diarahkan kemanakah sekolah ke depannya, itu
saja fungsinya. Istilahnya seperti buku
pedoman kegiatan,” ujar Bagaskara, siswa kelas X Olimpiade SMAN 3 Semarang.
Meskipun begitu, tanpa adanya titik
awal dari aspirasi maka tujuan akhir juga tidak mungkin tercapai. Karena itulah
selain perlunya partisipasi untuk menyampaikan aspirasi, pihak sekolah juga
harus ada transparasi agar pembangunan nantinya sesuai dengan aspirasi yang
telah disuarakan.
Bagaimana jadinya jika tidak ada
aspirasi yang disampaikan? Tentu saja pembangunan sekolah tidak akan berjalan.
Seperti yang kita ketahui, aspirasilah yang memberi bantuan. Tidak hanya untuk pihak
sekolah secara menyeluruh, tetapi juga untuk perkembangan Program Kerja yang
dimiliki oleh organisasi di sekolah seperti OSIS dan MPK.
Aspirasi yang diperlukan tidak hanya
dari siswa saja, tetapi juga dari guru. Memang sekolah didominasi oleh siswa, tapi
guru juga ikut berperan dalam sekolah.
Sama halnya dengan yang disampaikan
oleh Humairo dari kelas XI MIA 10 SMAN 3 Semarang, “Jika hanya dari salah satu
pihak saja yang didengar aspirasinya, menurut saya tidak adil. Harus
benar-benar imbang antara siswa dan guru.”
Dengan adanya aspirasi bersama, maka
pembangunan sekolah nantinya juga dapat diseimbangkan dengan harapan dari siswa
dan guru. Maka dari itu semua aspirasi harus disuarakan demi kepentingan
bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar